Mengenal Difteri dan Hal-hal yang Perlu Diketahui

Wabah difteri pernah terjadi pada tahun 2009. Kini wabah tersebut kembali menyebar, bahkan lebih meluas hingga dilaporkan di 20 provinsi. Bahkan ada lebih dari 30an kasus penderita difteri yang dilaporkan meninggal dunia. Kemungkinan besar wabah difteri akan terus ada jika masih banyak anak yang tidak diimunisasi, dan atau diimunisasi namun tidak lengkap.

Difteri biasanya menyerang bayi, anak-anak, dan balita serta anak usia sekolah, juga remaja. Oleh karena itu orang tua diimbau untuk lebih menjaga kondisi kesehatan anak.

Kondisi yang mengkhawatirkan seperti ini ditengarai kengganan orangtua memberikan imunisasi pada anak. Lambatnya deteksi dini terhadap difteri menjadi salah satu faktor yang menyebabkan penderita penyakit menular ini berujung pada kematian. Peranan orang tua sangat penting dalam hal ini. Sebaiknya orang tua lebih peka terhadap kondisi anak agar tidak sampai terkena wabah difteri yang parah.

Mengutip CNN Indonesia, Dokter Firmansyah, spesialis penyakit dalam RSPI Suliyanti Saroso, mengatakan orang tua di Jakarta masih kurang sigap menanggapi wabah difteri. Umumnya mereka masih menganggap enteng jika anak mengalami panas dan batuk-batuk. Padahal, setidaknya orang tua harus waspada ketika anak batuk pilek apalagi jika terkena demam tinggi dan terjadi selama berhari-hari. Ketika dibiarkan dan sudah terlanjur mencapai kondisi yang parah, akan semakin sulit untuk menanganinya, bahkan dapat berujung pada kematian.

Pengertian, Gejala, dan Penyebab Difteri

Difteri merupakan penyakit akibat kuman Corynebacterium Diptheriae (CD). Penyakit ini mudah sekali ditularkan melalui batuk dan bersin. Ini karena bakteri CD paling banyak bersarang di tenggorokan dan hidung. Bakteri ini kemudian membentuk selaput putih dan tebal yang lama-kelamaan akan menutupi saluran pernapasan. Bakteri tersebut juga bisa mengeluarkan racun atau toksin yang mampu melumpuhkan otot jantung dan saraf. Hal inilah yang kemudian menjadi penyebab kematian.

Difteri biasanya menyerang bayi, anak-anak, dan yang paling banyak adalah balita dan anak usia sekolah, serta remaja. Sebagian besar dari mereka yang terkena difteri pada umumnya belum pernah diimunisasi sama sekali, atau belum pernah diimunisasi DPT. DPT merupakan satu-satunya imunisasi yang mampu mencegah difteri.

Gejala yang paling terlihat dari penderita difteri adalah terdapatnya selaput putih tebal di tenggorokan atau di hidung. Dalam beberapa kasus juga disertai dengan leher yang bengkak. Ketika mendapati gejala seperti itu, segeralah periksakan anak Anda ke dokter.

Pengobatan dan Imunisasi Difteri

Penanganan pertama bagi seseorang yang didiagnosa terkena difteri adalah rawat inap dan diberikan antibiotik. Penderita difteri harus diisolasi selama dua minggu, dan semua yang berata di sekitarnya seperti orang tua dan kerabat lainnya juga harus diperiksa oleh dokter. Ternyata imunisasi juga perlu diberikan kepada mereka yang melakukan kontak langsung dengan pasien. Imunisasi untuk cegah difteri ini sendiri harus diulang setiap 10 tahun.

Untuk imunisasi pada anak, idealnya adalah sampai umur 1 tahun telah mendapatkan DPT tiga kali, sampai umur 2 tahun 4 kali DPT, serta sampai umur 5 tahun kalau bisa sudah dapat 5 kali DPT. Di umur 6 tahun 6 kali DPT, umur 7 tahun 7 kali DPT, hingga tamat SD disarankan sudah dapat 8 kali DPT. Untuk anak di atas usia 7 tahun, nama vaksin yang diberikan adalah Td.

Semakin cepat ditangani, maka akan semakin besar kemungkinan pasien difteri akan selamat. Penanganan yang terlambat umumnya akan menyebabkan pasien meninggal atau terpaksa dibolongi lehernya agar dapat bernapas. Rentang waktu setelah diagnosa hingga pasien meninggal dunia memang beragam. Ada yang 5 hari, ada juga yang satu minggu, semua tergantung dari derajat keparahannya. Semua pasien yang meninggal rata-rata yang tidak diimunisasi sama sekali atau diimunisasi namun tidak lengkap. Faktor lain yang menyebabkan difteri menjadi parah adalah terlambatnya pasien dibawa ke rumah sakit, otak yang kekurangan oksigen, atau kuman yang mengeluarkan racun sehingga menganggu fungsi jantung.

Untuk itu, para orang tua diimbau untuk lebih waspada terhadap difteri. Mengingat anak-anak menjadi sasaran utama wabah difteri karena kekebalan tubuhnya belum sebaik dan sekompleks orang dewasa. Orang tua juga diminta untuk mengimunisasi putra-putrinya agar kebal dari difteri. Selain itu juga diharapkan melakukan pola hidup bersih dan sehat, dan yang terpenting, tidak menunda pemeriksaan ke fasilitas kesehatan anak jika melihat ada gejala difteri.

 

Comments

comments

By | 2018-12-30T16:14:27+00:00 December 11th, 2017|Fakta Kesehatan, Gejala Penyakit, Keluarga Sehat|0 Comments

About the Author:

PesanLab adalah platform online untuk tes darah dan medical checkup. Harga Hemat, Bisa Home Service Dan Hasil Lab Online