Skoliosis: Kelainan Anatomi yang Mengubah Struktur Tulang

Menggunakan tas dengan beban terlalu berat lama-kelamaan dapat menyebabkan kelainan struktur tulang seperti skoliosis.

Kebiasaan yang dilakukan sehari-hari faktanya dapat berpengaruh buruk pada kesehatan. Salah satunya adalah berpengaruhnya aktivitas harian terhadap pertumbuhan tulang. Terbiasa mengangkat beban secara berlebihan seperti tas yang terlalu berat, atau duduk dengan posisi yang tidak tepat akan berpengaruh pada tulang belakang. Kebiasaan buruk seperti ini jika dibiarkan dapat menyebabkan kelainan struktur tulang belakang yang membengkok ke samping atau biasa disebut dengan skoliosis. Skoliosis dikenal sebagai salah satu deformitas tulang atau kondisi kelainan secara anatomi yakni struktur tulang berubah dari yang seharusnya.

Deteksi Sedini Mungkin
Melansir CNN Indonesia, skoliosis sebenarnya dapat dicegah dengan mendeteksinya sedini mungkin. Hal ini sebaiknya dilakukan ketika anak menginjak usia remaja, yakni 10-14 tahun. Deteksi dini seperti ini memberi keuntungan seperti mencegah progresivitas derajat skoliosis yang semakin lama akan semakin tinggi dan membuat tulang menjadi semakin bengkok, dan dengan begitu dapat menurunkan tingkat kebutuhan operasi serta mengurangi tingkat kesulitan operasi. Apabila skoliosis dibiarkan, maka tulang belakang akan semakin bengkok. Pada akhirnya kondisi seperti ini dapat mengganggu fungsi paru-paru dan jantung karena ruang paru-paru dan jantung menjadi lebih sempit.

Tidak sulit untuk mendeteksi dini skoliosis. Hal ini dapat dilakukan dengan cara sederhana. Anda cukup membungkukkan badan, kemudian meminta bantuan seseorang untuk meraba punggung Anda. Apabila ketika diraba terasa ada benjolan dan punggung yang asimetri, Anda perlu waspada karena bisa saja itu merupakan skoliosis. Skoliosis sendiri memiliki sejumlah ciri khas fisik, beberapa di antaranya adalah terdapat tonjolan di punggung, pundak tinggi sebelah, pinggang tidak sama, pada perempuan terkadang payudara besar sebelah.

Penyebab dan Gejala Skoliosis
Ada bermacam-macam penyebab skoliosis. Penyakit ini dapat terjadi karena faktor bawaan atau genetik (kongenital), kelainan bawaan yang mempengaruhi jaringan ikat, gangguan saraf atau neuromuscular dan ini biasa pada penderita celebral palsy, bisa juga karena sindrom tertentu misalnya, idiophatic atau tidak diketahui secara pasti apa penyebabnya. Hingga saat ini, sekitar 80 persen dari seluruh kasus skoliosis belum diketahui penyebab pastinya.

Seperti sudah disebutkan sebelumnya, gejala skoliosis dapat berupa benjolan, lalu bentuk punggung, leher, pinggang, dan panggul yang asimetri, serta derajat angka pada skoliometer yang sudah lebih dari 10 derajat. Apabila Anda menemukan salah satu dari gejala-gejala tersebut, Anda sangat disarankan untuk melakukan X-Ray untuk lebih memastikan sekaligus mendapatkan derajat skoliosis yang lebih akurat.

Penanganan Skoliosis
Angka pada skoliometer sangat menentukan. Apabila angka kurang dari 5 derajat, maka tidak diperlukan tindakan lebih lanjut. Namun, apabila skoliometer menunjukkan angka 5-10 derajat, Anda sebaiknya melakukan penanganan serta pemeriksaan secara berkala setiap 6 bulan sekali. Penanganan terhadap pasien skoliosis bertujuan agar derajat atau sudut skoliosis tidak semakin besar. Biasanya penanganan terbagi menjadi tiga, yaitu observasi bagi pasien skoliosis dengan sudut kecil (5-10 derajat), orthosis dengan bantuan brace atau alat untuk menopang dan memberikan koreksi pada tulang belakang.

Orthosis sendiri dilakukan pada pasien skoliosis dengan derajat sedang (20-40 derajat) dan berusia di bawah 18 tahun. Orthosis hanya dapat diterapkan pada pasien berusia di bawah 18 tahun karena melebihi usia tersebut, tulang seseorang sudah tidak tumbuh dan berkembang sehingga brace yang dipasang tidak akan berpengaruh apa-apa terhadap tulang. Satu-satunya cara menanganinya adalah dengan melakukan operasi. Dalam sebuah kasus skoliosis dengan derajat besar (>100 derajat), sang pasien akhirnya meninggal akibat menurunnya fungsi jantung dan paru-parunya yang disebabkan oleh posisi tulang belakang dan tidak bisanya dilakukan operasi karena kondisi pasien yang lemah.

Kebiasaan yang Berisiko Menimbulkan Skoliosis
Terdapat dua tipe skoliosis, yaitu skoliosis struktural dan skoliosis postural. Skoliosis struktural kemudian dibagi lagi menjadi empat jenis, yakni infantile (0-3 tahun), juvenile (3-10 tahun), adolescent, (10-19 tahun) dan adult (>19 tahun). Pada kasus skoliosis adult di usia 40-50 tahun, biasanya terjadi karena menurunnya kesehatan tulang, dan pengeroposan tulang atau osteoporosis. Sedangkan skoliosis postural merupakan skoliosis yang disebabkan oleh kebiasaan-kebiasaan tertentu dan dapat kembali normal jika kebiasaan tersebut diubah. Berikut kebiasaan sepele yang ternyata dapat mempengaruhi struktur tulang belakang.

1. Posisi Duduk
Tanpa disadari, posisi duduk sangat berpengaruh terhadap struktur tulang belakang. Ketika membaca ataupun menulis, orang cenderung akan mencari posisi yang nyaman, tapi bisa saja posisi yang nyaman ini malah berakibat buruk untuk tulang. Anda sebaiknya membiasakan untuk duduk dalam posisi tegak agar struktur tulang belakang tetap normal. Posisi duduk yang salah nyatanya tak hanya mengakibatkan skoliosis. Misalnya duduk dengan membungkukkan tubuh ke arah meja dapat membuat tulang menjadi bengkok ke arah depan atau lordosis.

2. Beban Tas
Tas yang berbentuk sling atau tote bag memang terasa simpel dan modis. Bagi kaum hawa, tas seringkali jadi bawaan wajib dengan isi yang banyak dan beragam. Namun, ada hal yang perlu diperhatikan, yaitu berat tas yang dibawa, apalagi jika beban tersebut hanya diletakkan pada salah satu pundak saja. Beban maksimal yang ideal ditopang oleh tubuh adalah sepersepuluh dari total berat badan. Jadi apabila berat badan Anda 50 kilogram, maka beban maksimal yang dapat Anda bawa adalah 5 kilogram.

3. Kebiasaan Tidur
Ketika tidur, sebaiknya posisi bahu dan leher berada dalam keadaan sejajar. Tidur telentang memungkinkan kepala, leher, dan tulang belakang sejajar selama tidak menggunakan bantal. Tidur dengan posisi telungkup tidak disarankan karena dapat mengganggu struktur alami tulang belakang. Selain itu akan timbul tekanan pada sendi dan otot. Posisi tidur lainnya yang tidak disarankan adalah meringkuk, apalagi apabila melengkungkan tubuh hingga lutut sampai menyentuh dada. Ini akan menyebabkan leher dan punggung terasa sakit.

Comments

comments

By | 2018-12-30T16:09:28+00:00 December 23rd, 2017|Gejala Penyakit|0 Comments

About the Author:

PesanLab adalah platform online untuk tes darah dan medical checkup. Harga Hemat, Bisa Home Service Dan Hasil Lab Online